Friday, April 25, 2014

#Jumatulis 6 Kopi, Kumis, Indera, Bunting, Roda Warung Kopi dan Dendam


Aku tak pernah menyesali apa yang telah kuperbuat. Aku merelakan diriku hidup di balik jeruji dalam keadaan bunting. Namun aku puas, telah membunuh si Bejat Pak Kumis. Disuatu siang yang lain pisau yang biasa kupergunakan untuk memotong pisang menancap pada ulu hatinya yang kala itu Pak Kumis kembali datang dengan muka dan indera penglihatan bejatnya. Setelahnya, aku kemudian melaporkan diri sambil kukayuh sepedaku yang rodanya mulai oleng.
Aku tak pernah lagi memikirkan ibu dan kankernya, ia sudah pergi dengan tenang setelah kejadian siang itu, kejadian yang membuat aku bunting, aku menemukan ibu sudah dalam keadaan terbujur kaku. Soal bunting ini dan bagaimana nanti anak ini nanti lahir bisa kupikirkan nanti, lagipula aku tak pernah menginginkan anak ini hidup.”
****
Nyai, saya seperti biasa ya, kopi hitam tanpa gula.” Pinta Pak Kumis disuatu siang. Saat itu udara sedang dingin, maklum sekarang sudah masuk Desember, sudah masuk musim penghujan. Aku bersyukur karena dengan udara yang dingin seperti ini, warung kopi kecilku jadi ramai, sudah tentu penghasilanku yang hanya mengandalkan warung kopi ini akan bertambah. Entah hanya perasaanku waktu itu saja atau memang sudah pertanda dari hal yang sangat aku benci, kejadian yang kini membuat aku jadi wanita yang pendendam.

Tak seperti biasanya, warung kopiku saat itu sangat sepi. Hujan mengguyur desaku dari pagi. Sejak awal matahari tak lagi menampakkan dirinya dihari itu, aku sudah malas rasanya untuk membuka warung kopiku, namun kebutuhanlah yang mendesakku. Ibu dan kanker darahnya sangat membutuhkan uang hasil penjualan kopi dan indomie rebus di warung kecil itu, maka meskipun aku ragu untuk membuka warung kopi, aku akan tetap berjualan, aku tak akan membiarkan kanker itu menguasai tubuh ibu dengan merdekanya.
Aku mengayuh sepeda ontel pemberian kakekku dulu menuju warung kopi. Rodanya masih sangat kokoh untuk menampung berat badanku yang semakin membesar ini. Dari awal aku memang sudah ragu, dan benar saja, roda sepedaku bocor. Bukannya aku tak mau menambal roda ontelku, namun bengkel sepeda didesaku hanya ada satu dan dia hanya buka di hari Jum’at. Akhirnya terpaksa aku berjalan disamping ontelku yang kini tak lagi muda menuju warung kopi.

Aku membuka pintu warung yang terbuat dari kayu, lalu aku membuka beberapa papan yang menutupi sebagian badan warung dan diluar hujan masih dengan seenaknya mengguyur bumi. Aku berjalan menuju dapur, aku mempersiapkan semuanya.
Sudah pukul dua siang, namun pelangganku hanya satu dua saja yang datang. Sungguh tak seperti biasanya. Bale yang biasanya ramai dengan lelaki yang memainkan kartu sepi. Hanya ada beberapa abang sopir angkutan umum yang hanya sekedar melepas lelah. Maklum saja, karena rute angkutan umum ini sangat jauh, dan angkutan inilah kendaraan desa kami satu-satunya.

Setelah abang sopir itu pergi, warungku menjadi sepi. Namun disaat itulah kejadian yang tak pernah aku inginkan terjadi. Burhan atau lebih sering dipanggil Pak Kumis dan beberapa temannya datang. Dari awal kedatangannya aku sudah punya firasat buruk bahkan sempat aku ingin menutup warungku, namun aku urungkan niatku itu. Aku tak enak hati, karena aku masih punya hutang banyak pada Pak Kumis si tua sialan ini.

Nyai, tumben sepi warungnya?”. Tanya Pak Kumis memulai percakapan ini. Jujur aku sebenarnya paling malas menjawab pertanyaan-pertanyaan dari si tua bangka ini. Indera penglihatannya yang sudah memancarkan nafsu bejatnya itu makin membuatku takut. “Hei Nyai, kau kenapa diam saja hah?”. Ia terus saja melihatku dengan pandangan yang tak mengenakkan. Ia tetap mengajakku bicara sambil memainkan kumisnya yang tebal diatas bibir itu. Aku tetap diam.

Nyai, udaranya dingin ya, sepertinya saya butuh kehangatan.” Pak Kumis masih tetap bicara sambil perlahan masuk ke tempatku berdiri.
Pak, saya bisa bikinin bapak kopi seperti biasa, tapi saya mohon agar bapak menunggu diluar, dapur saya sempit.” Pintaku. Tanpa kusadari, saat aku mulai menyeduh kopi Pak Kumis, tiba-tiba Pak Kumis memelukku dari belakang. Aku kaget. Aku memukulnya dengan kayu yang ada disekitarku, bahkan aku sempat menyiram tubuhnya dengan kopi yang baru terisi air mendidih setengah. Dia mengerang. Kupikir dia akan berhenti, namun dia semakin buas. Ia kemudian menamparku dengan sekuat tenaganya, dia memukul bagian belakang kepalaku. Aku tetap masih bisa mempertahankan diri. Namun kebejatannya Pak Kumis belum berakhir, ia mendorong tubuhku hingga terbentur bilik warung, dan aku kemudian dipukulinya kembali hingga aku tak sadarkan diri hingga kejadian itu terjadi.


10 comments:

  1. Buset dah mentang2 pecinta "KOPI" kata2nya sampe 10 euuyyy :p

    ReplyDelete
  2. Ceritanya ingetin tulisannya Khrisna Pabichara yang di buku Antologi Cinta ^^ Terinspirasi dari sana?

    ReplyDelete
  3. Disuatu siang yang lain <<< -- Li kayaknya abis kata2 Disuatu siang pake tanda koma lebih enak deh :) CMIIW aja ya...

    ReplyDelete
  4. Kak dwi hahahhaha, emang terinspirasi dari situ -___-

    ReplyDelete
  5. Sip kak bije, nanti aku perbaiki lagi :3344

    ReplyDelete
  6. Bang jul dan om yo kalian jangan kek gitu yaaaa mahahhahaha

    ReplyDelete