Saturday, October 6, 2018

Sepeda - Kamisan S04E01




“Saya tidak pernah tahu sejarah mana yang benar dan yang bukan. Yang saya tahu sejarah ditulis para pemenang. Berdebat bukanlah sikap yang tepat. Sebab setiap bagian akan membenarkan diri dan akan menyalahkan yang lain. Yang saya tahu, sesiapa yang berhasil mengarang cerita, ia bukan hanya membohongi diri sendiri tetapi jutaan orang, juga anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Semua berhak memutarbalikkan fakta, semua berhak mendapat pengakuan, semua berhak mendapat bela.

Sesiapapun yang membuat sejarah, seharusnya dia tahu, bahwa Tuhannya tidak pernah tidur.”

Dua tahun setelah peristiwa. . .

Entah bagaimana nasibku juga ikut bersama mereka di bui ini. Bui yang setiap orang tidak ingin memasukinya, apalagi sampai mendekam di dalam dan begitu lamanya. Tapi, kini aku ada. Aku ada di bui ini, bersama mereka, menikmati sakit.

Aku ditempatkan di ujung blok. Aku sudah tua, dan mereka tau itu. Tubuhku bukan hanya rapuh, tapi komposisinya sudah tidak sanggup menyangga badanku sendiri. Aku di sandarkan di dinding berwarna putih, yang bahkan beberapa lepasan catnya menempel di tubuh. Mereka tidak peduli bagaimana aku menikmati hari-hari dengan sengatan matahari, dinginnya malam, suara-suara penyiksaan, suara-suara tangisan, suara-suara umpatan.

Aku tidak pernah memilih untuk menjadi seperti ini, atau bahkan paling tidak jangan aku yang harus di sini. Aku tidak suka tempat ini. Aku tidak tahu apa-apa, mengapa mereka memilih aku untuk di sini?

Lalu, lambat laun aku mulai menikmati. . .

Tapi, semua suara dan semua rasa yang awal aku rasakan seperti aku tidak ingin mendapatkannya, kini aku menerimanya. Sebab bagaimanapun, aku tidak bisa pergi begitu saja, di sini ketat penjagaanya, sipir-sipirpun kejam. Aku hanya berharap ada yang membawaku keluar dari bui ini.

Aku mulai terbiasa dengan suara tendangan sepatu boot yang menendang dengan empuk ke bagian tubuh penghuni. Suara lemparan piring, suara hujatan “pengkhianat pancasila”, suara hujatan “pengkhianat golongan”, suara orang-orang yang meringis kesakitan ketika tubuhnya di lempar, ketika bagian tubuhnya sengaja diinjak oleh meja.

Pada suatu hari di sebuah malam. . .

Aku tidak tahu mengapa hari ini begitu menjadi sangat damai. Sedari pagi, udara terasa sangat lembut menyentuh tubuh, siang hari tidak begitu menyengat seperti biasanya. Aku menikmati hari ini, bersyukur, karena di tengah tempat penyiksaan seperti ini jarang sekali aku merasakan senyaman ini.

Hingga suatu ketika, ada seseorang yang berani mengayuh pedalku. Seseorang itu kurus, aku tau karena aku tidak begitu merasakan beratnya di atas dudukku. Ia mengayuh dengan sangat cepat sembari membawa kepanikan yang luar biasa. Ya aku merasakan itu, merasakan degup jantungnya, merasakan peluhnya. Ia mengayuh dan terus mengayuh. Aku senang, aku pikir aku akan bebas dari tempat ini. Dan aku berteriak.

Tidak akan ada sejarah yang mencatatku sebagai sepeda tua yang tidak tahu apa-apa tapi ikut dipenjara dalam bui, dijemur di siang hari, dan akan merasakan dingin di malam hari. Pada malam aku di bawa kabur seorang tahanan, aku pikir aku akan dibawanya, merasakan bebasnya, dan menjadi normal seutuhnya. Tapi kenyataan berkata lain. Jejak tahanan ini diketahui oleh sipir yang-menurutku-sama-tidak-manusiawinya. Berawal sebuah tembakan mengenai rodaku, aku terjatuh, aku tak mampu menopangnya. Tahanan itu jatuh, ia kemudian lari masuk ke hutan. Nasibku sangat tidak bagus, aku kemudian dilindas oleh kendaraan yang jauh lebih kuat, dan juga beberapa. Aku kemudian terbagi menjadi beberapa bagian, tubuhku hancur. Aku dibiarkan.

Dan sekali lagi, sesiapapun mereka yang membuat sejarah, seharusnya mereka tahu, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Galau - Kamisan S04E02




Andai aku tau sesakit ini rasanya menyakitimu,
akan aku putar waktu untuk tidak memulai semua pertengkaran ini.
Andai aku tau jika menduakanmu akan sebesar ini rasa bersalahku,
akan aku putar waktu untuk tidak mengenali lelaki yang bahkan ia memperlakukan sikap yang sama pada setiap perempuan.
Andai aku tau, sejatuh ini aku menyesal atas semua lakuku,     
Aku ingin tak menyakitimu lebih lama lagi.

Pilar, seandainya kamu tau apa yang sedang aku lakukan pada malam ini, apa kamu masih mau merasa iba untuk kesalahanku yang telah berulang-ulang?

-Enigma-

Pada malam itu, suasana di lapangan yang sangat luas angin mengembuskan napasnya. Sangat sejuk, tapi tidak untuk mewakili hati seorang perempuan yang patah hati atas kesalahan-kesalahannya sendiri. Perlahan hujan turun, gerimis, gerimis, kemudian hujan lebat.

ah, hujan mengapa kau selalu menjadi alasan-alasan yang tepat untuk menjadi galau?’’


Monday, October 1, 2018

Merajut Harkat by Putu Oka Sukanta



Judul             : Merajut Harkat
Penulis           : Putu Oka Sukanta
Penerbit        : PT. Elex Media Komputindo
5 bintang dari 5

“Ia memancing anak tikus dengan ikan asin. Benar-benar gila. Ia telentang di lantai kakus, telapak tangannya diisi ikan asin. Nah begitu anak tikus itu menggigit ikan asin, ia menggemgam tangannya, bayi tikus itu dimasukkan ke mulut lalu dimakannya.”

“Si Markus makan kulit pisang yang sudah terendam air kencing semalaman, dan dua hari kemudian, ia mati.”

-Sebuah Pengantar-

Buku ini menceritakan Mawa, seorang tahanan politik tahun ’65 yang ditangkap setahun setelah peristiwa itu terjadi. Buku ini diterbitkan tahun 2010. Saya beli dengan harga 30 (percayalah, bahagia itu sesedarhana ini, wkwkwkw) dan saya beli di April 2014, tapi baru saya baca sekarang dengan cara yang baik ehehehe .

Buku ini terdiri dari lima bagian dan di tiap bagiannya itu terdiri dari beberapa bagian cerita lagi. Buku ini saya kasih lima bintang dari lima bintang, kenapa? Mari saya ceritakan.

Buku ini diawali dengan pembukaan-pembukaan dari beberapa pembaca. Dari awal pembukaannya saja sudah menarik. Yang terpikirkan waktu baca buku ini adalah “baik-baik, nanti diciduk’ wkwkwkw. Dari tag line di cover bukunya saja kita sudah pasti tahu bahwa buku ini menceritakan tentang betapa tersiksanya menjadi seorang tahanan “disiksa, dibunuh, dibiarkan kelaparan, tanpa obat, tanpa perhatian, tanpa harga diri. . . “

Dan benar saja, Om Putu ini, menurut saya benar-benar pandai mendeskripsikan cerita dari awal sampai akhir. Benar-benar detail. Ketika kalian membacanya, kalian juga akan merasakan apa yang tahanan itu rasakan; gimana ia dibiarkan makan sehari sekali, minum sekali, dipukul, dipaksa mengaku, difitnah, dan segala apapun “penguasa” lakukan, bisa jadi kalian ikut menangis.

Di tiap bagiannya menceritakan gimana awal mula si Mawa ini ditangkap, kemudian dipenjara sampai ia bebas. Dimulai dari diintai, dicurigai, ditangkap lalu kemudian dipaksa mengaku dengan ibu jari diinjak dengan kaki meja (saya yang keinjek keponakan aja nyerinya setengah mati TT gimana kaki meja, duh Gusti), dan kisah Mawa yang dipindahkan dari satu penjara ke penjara yang lain, dari blok satu ke blok lain serta cerita di dalamnya. Dan Om Putu ini benar-benar membawa saya menjadi ikut nyeri (Saya gak tau waktu itu orang-orang di kereta atau di stasiun itu melihat saya gimana, karena pas baca penyiksaannya saya ikut bongkok-bongkok wkwkw). Selain kalian yang baca disguhkan rasa nyeri, kalian juga akan disuguhkan oleh “kisah cinta” Nio terhadap Mawa yang sangat setia, yang tidak pernah pergi apapun kondisi Mawa, yang justru membangkitkan semnagat Mawa untuk tetap hidup walau dalam tekanan. Kalian juga akan merasakan gimana rasanya dikhianati (tapi ini rasanya beda ya dikhianati sama anuan, ehehehe). Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Mawa ini. Kita harus bisa bangkit saat terjatuh, jangan ngikutin arus seakan-akan kita mati begini. Mawa idtengah siksaannya ia masih mau banyak belajar (bahasa, kerajinan dan lainnya), tidak memikirkan diri sendiri walau kekurangan (ini digambarkan ketika Mawa mendaptkan kiriman dari Nio, Mawa selalu membagikan ke teman yang lain disaat yang lain menjaga makanannya karena takut kelaparan), dan tetap berbuat baik terhadap orang yang sudah mengkhianati (Mawa tetap baik ketika Handi mecoba memfitnah dia da kawan-kawannya akan mengadakan sebuah organisasi dan pesta).

Ceritanya maju, jadi gak bikin pembaca bingung, gak bolak balik halaman untuk menyambungkan cerita (ini menyebalkan sih, masa disuruh mengingat masa lalu lagi). Kalaupun ada cerita tentang masa lalu, itu diceritakan di awal bagian dan dijelaskan pemisahnya. Jadi kita, tahu oh ini ceritanya si ini, penggalannya sampai sini, oh ini bagiannya ini, oh jadi si ini dulunya begitu. Ya pokoknya gak bikin pembaca pusing. Oh iya, tapi ada sebagian cerita dari kisah penjara yang membuat kita tertawa. Jadi gak sepenuhnya cerita ini tentang penyiksaan, ya walaupun 80%nya iya ehehe.

BUT, ENDINGNYA NGESELIN ALLAHU RABBI. Pas sudah sampai akhir, kalian akan cuma berkata “udah? Gini doang? Akhirnya begini”. Gak nyangka bukunya sudah sampai halaman akhir sedih akutuh

Buku ini membuka isi mata sejarah saya dari sisi yang beda. Sebuah sisi yang tak pernah diungkapkan juga dalam buku sejarah sekolah. Buku ini membuat saya sempat berpikir “kenapa yang ditanamkan kebencian kepada saya selama puluhan tahun adalah “mereka”, kenapa tak sama-sama. Saya tidak mendukung, tidak juga membenarkan, dan juga membenci “mereka” atas apa yang “mereka “lakukan waktu itu. Mereka yang menyiska para tahanan juga jahat, sama-sama gak punya hati, karena yang mereka tangkap tidak semua terlibat, tidak semua tahu, dan yang hanya ikut-ikutan, tapi ikut merasakan siksa, makanan tahanan diambil duluan, istri-istri diperkosa. Apa tidak berarti sama juga? Dan yang menjadi saya berpikir saat ini, kenapa saya harus ditanamkan kebencian hanya dengan satu sisi saja?. Kenapa sejarah itu hanya untuk pemenang (yak arena ditulis oleh pemenang wkwkw. WOY NUR AINI, INI FIKTIF, JANGAN MIKIR MACAM-MACAM, BAPER AMAT AMA CERITA DOANG, :(. )

----------------------

“Nio, banyak hal yang bisa mempertautkan dua hati. Tidak hanya kecantikan atau kekayaan. Ada yang lebih dari itu”. “Apa  itu, mas?”. “Engkau semakin dekat padaku, justru saat aku sudah mulai kehilangan sebagian besar dari apa yang pernah kumilik. . . aku merasa aman bersamamu (Ecieeeee, kalian juga kepengen kan diginiin,wkwkwk).” – Hal 58-59.

“Jadi, bukan hanya ideologi yang membuat orang-orang berkelahi, kopi dan rokokpun di kalangan seideologi sering menyudutkan percekcokkan.” – Hal 93.

“Para tahanan saling berpandangan. Mawa merasa ngeri, walaupunotaknya berusaha menangkan perasaan. Kriminal itukan manusia, pikirnya. Mereka menjadi criminal bukan karena kemauannya. Mereka kelaparan, kecewa, dendam, kemiskinan atau salah tangkap.” –Hal 149.



Sunday, July 29, 2018

Sebuah Buku yang Mencari Celah

Yang mengendap-endap, memasuki sebuah ruang gelap. Berusaha untuk mencari celah agar ia bisa memasuki diri. Sudut demi sudut ia cari. Lantai satu tidak ia temukan, ia beranjak ke lantai dua, tak lagi ia temukan. Tinggal satu harapannya, lantai tiga. ia mencoba mencari semua sela-sela. Ia menemukannya. Ia bergembira. Ia mengambil posisi di antara Tuhan Hitler dan Sabda Zarathrusta. Ia melirik keduanya. 

"Apalah aku ini, hanya seorang sufi dari Madura. Dua manusia yang tergambar di sebelahku adalah sosok laki-laki yang memiliki kumis. Kedua mata mereka memiliki sorot yang tajam. Tidak ada senyum diantara mereka. Sebelum masuk diantara mereka berdua, aku meminta izin agar aku bisa beristirahat dengan baik diantara mereka. "

"Kau orang baru?" Tanya Hitler padaku.
"Bukan, saya sudah dibeli olehnya tiga bulan yang lalu. Hanya saja ia baru berani membawaku kerumahnya hari ini. "
"Kau harus hati-hati kalau tidak ingin ketahuan. Ibu Suri di sini sangat bawel kalau dia tahu perempuan yang membawamu kesini telah membelimu." Sahut Nietz.

Nietz dan Hitler mempersilahkan aku untuk beristirahat diantaranya.Mereka berdua banyak menceritakan teman-temannya bisa masuk ke tempat ini. Nietz yang lebih banyak cerita karena ia yang lebih dahulu datang daripada Hitler. 

"Kau datang cuma sendirian?" Tanya Nietz.

"Tidak. Aku masih punya tiga orang teman lagi di meja tempatnya bekerja. Nanti kau akan kenal dengan mereka"





Thursday, March 29, 2018

Doaku Mengantar dari Luar, Om


"Aku bisa mengerti, tidak mudah baginya untuk mengingat. 
Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu.
Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya.
Sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup,
tumbuh dengan cara rumit dan sedih, di sebuah tempat yang sulit dijangkau
Mengingat dan masa lalu, adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama debu." 

Retakan Kisah dalam Kumcer Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, hal 97.

Salah satu cerpen yang saya suka dari sekian banyak cerpen yang pernah ia tulis. Retakan kisah ini menceritakan seoran perempuan yang hidupnya dan keluarganya disandera oleh sebuah organisasi yang orang-orang bilang organisasi itu adalah organisasi yang jahat. Om memang pandai merangkai kata, sampai-sampai saya menjadikan dia panutan saya dalam menulis. Apa yang dilihat, asal dapat dirangkai dengan kata yang baik, pasti bisa menghasilkan sebuah cerita yang baik pula. Cerpen ini pula yang akhirnya yang buat saya keluar dari rasa malu saya (ketika saya harus tampil di sebuah acara komunitas saya di daerah Pamulang); mencoba menangis seakan-akan saya yang jadi perempuan yang mengalami kejadian itu. 

Pada akhirnya, berkah sisa usia, Om Puthut Ea. Sisa umur di dunia semakin berkurang, berbuat baiklah. Impian saya, semoga saya bisa bertemu Om Tuy melalui teman Om Tuy yang bekerja di daerah Jakarta Selatan. Teman om itu pernah bilang sama saya kalau dia sahabatnya om, dan dia pernah bilang kalau ia lagi mau bertemu om, dia mau kabari saya. semoga tercapai ya :)

ini sedikit hadiah dari saya, sebuah tulisan dari beberapa judul buku yang Om tulis dan yang saya punya, sekiranya om ingin menambahkan lagi koleksi saya, saya pasti berterimakasih. Kata-kata ini sebenarnya sudah pernah saya posting di IG waktu ikut lomba #ultahputhutea berhubung syarat lomba selfie dan saya kalah, jadi saya hapus dan saya ganti di sini.

Aku mengenalmu melalui cinta yang datang tak pernah tepat waktu.
Aku membacamu dan menyukai semua usahamu dala menulis sebuah surat cinta.
Aku mulai ingin menjadi sepertimu, dan menulis kata-kata yang kupunya dalam sebuah kitab yang tak suci dan dengan sarapan pagiku yang penuh dusta. 
AKu sedikit bahagia, karena biarpun sedikit aku bisamenulis dengan gaya sepertimu dan darimu aku tau bagaimana aku harus menulis.


Aku berjalan keluar rumah, dengan maksud mencari ide baru untuk tulisan-tulisanku, sebab sudah banyak waktu yang kubuang untuk mendiami kitabku itu. 
Aku mengikuti jejak-jejak air, 
sampai diujung jalan aku menemukan seekor bebek yang mati di pinggir kali.
Di waktu senja yang sudah menua, 
aku enggan beranjak dari tempatku,
aku tak ingin pulang, sebab Deleilah tak ingin pulang dari pestanya.

Monday, March 27, 2017

Pelukan Belakang

Pada malam-malam setelahnya
Aku merindukan caraku memeluknya dari belakang
Penuh erat dan rasa nyaman yang begitu jauh
Sampai aku merasakan tak ada laki-laki yang lebih istimewa selainnya

Dan pada malam ini
aku merindukan sekuat-kuatnya saat pelukan itu ada
Andai sekali saja dikembalikan waktu
Aku ingin memeluknya dari depan
Bukan lagi dari belakang
Dan ingin katakan


"Ayah, seringlah datang-datang ke dalam mimpiku, juga mungkin mimpi ibu. Meski aku tau kamu melihatku, tapi aku rindu senyum dengan gigimu yang beberapa telah tanggal. Ayah seringlah datang saat aku tak mampu menghadapi hari-hari. Katakan, kalau aku kuat menghadapinya" 

Monday, November 28, 2016

26 Tahun Menginspirasi Negeri

Hayo, siapa yang tidak mengenal JNE saat ini?. Hampir semua orang mengetahui JNE itu apa. Apasih dia? Semacam makanan yang dapat menghilangkan kenangan-kenangan mantan atau sesuatu jimat yang cepat mendatangkan jodoh? hihihihihi….. Ehm kalau ini mungkin udah saya makan dari dulu, jadi gak perlu bertahun-tahun mengenang si dia, lelah soalnya, hehehe. . .

sumber: gambar sendiri

Nah bagi pebisnis online, dan yang hobi belanja online pasti sangat tahu JNE. JNE adalah mamang-mamang yang hobinya nganterin barang, surat, atau apapun dari si pengirim kepada penerima (iyalah masa penerima ke pengirim L ). Hampir semua orang pernah menggunakan jasa kurir ini. Jasa kurir ini tidak hanya mengirimkan barang hanya dalam kota saja loh, bahkan bisa keluar kota. Oh iya ngomong-ngomong “mamang-mamang yang hobinya nganterin barang”, kira-kira ada gak yah kurir yang “mba-mba” :D. 

Gimana sih rasanya didatengin mamang-mamang JNE dan kurir yang lainnya? Kita pasti seneng banget ya rasanya dan mungkin muncul pemikiran “Alhamdulillah untung tukang online shopnya bukan penipu (astaghfirullah, suudzan L) karena setelah sekian lamanya barang itu dipesan tapi gak muncul juga keberadaannya (kek pacar atau mantan yang ngilang berhari-hari terus tiba-tiba datang, ngetok pintu cuma balikin power bank, tenang ini bukan curhat pribadi kok, mas saya ndak gitu orangnya, ini curhatnya seseorang di grup, hahaha), dan pemikiran-pemikiran lainnya, apalagi mamang-mamang kurir yang nganterin barang itu mukanya kayak Steven Gerard, sampe rumah dia ngetok pintu, dan bilang “mba, mau jadi istri saya?” oh ini udah kelewatan ngayalnya. Ya walaupun gak kayak Steven Gerrard, tapi kayak mamang-mamang yang ada dislide di acara JNE kemarin, duh manis pisan J J.

Berawal dari ajakan Vira di grup WA (dan lagi-lagi grup WA Blogger Jabodetabek), yang ngasih tau kalau sesorang disana nyari orang yang mau datang ke acara miladnya JNE, kuota masih banyak, dan yang datang ke acara tersebut katanya sih biar gak emak-emak aja, hahhaha. . . (digetok seseorang yang disana). Nah, Vira ngasih tau, kalau acaranya JNE ini bakal ngasih goodie bag yang kalau dijumlah harganya nganu, maklumlah, kita mah para blogger pencari goodie bag, yang tiap acara cuma ngincer isi goodie bag, hahahaa (digetok orang segrup WA). Tapi untuk kali ini saya ikut  gak ngincer goodie bagnya kok, emang pengen jalan-jalan aja, bosen di rumah, dan emang pengen ikut acara macam gini lagi setelah dua tahun yang lalu (kesiyan, ya L).  Dan akhirnya saya pun daftar.

Hari-hari berlalu. Ancaman untuk gak bisa ikut acara ini datang, karena tiba-tiba Vira kasih kabar di grup “yang daftar JNE, cek email ya”. Waktu itu di email saya belum ada, sampe akhirnya Tiwi yang bikin saya bisa ikut. Makasih loh Tiwi, sini aku ketjup-ketjup manjah.
Dan akhirnya, hari yang ditungguin tiba. Dari grup, yang ikut itu berenam, setelah sebelumnya yang saya tahu yang ikutan itu hanya lima orang, sampe-sampe pas lagi di busway, ada yang telepon dan nanyain “Li, lo dimana? Gue udah sampe nih, buruan lo dateng”, lah salah sendiri kan ya dia gak berkoar-koar di grup waktu kita rame-rame ngomongin ini acara,entah siapa orangnya.


para fakir goodie bag :D

”Media & Blogger Gathering JNE, When Local Goes Global”

Dalam acara memeriahkan hari menetasnya, JNE mengadakan acara “Media & Blogger Gathering JNE” yang diselenggarakan pada hari Selasa, 22 November 2016 di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Acara ini dimulai habis dzuhur, tepatnya sih kurang tau, soalnya acaranya dimulai dengan makan siang yang sesungguhnya saya, Vira, juga Adibah ketinggalan karena kita shalat dzuhur dulu (menantu idaman kan kita J). Ya nasib dapat makanannya terakhir jadi seada-adanya, eh tapi begini aja enak loh, apalagi ikannya, nyesel bener ngambilnya cuma satu potong aja L.


nasi dan ikan yang enak :( 
Nah setelah acara makan-makan, kita masuk ke acara inti yeayyyy J. Acara ini dipimpin sama Kak Kemal, kemudian dibuka sama Direkturnya JNE, Bapak M. Feriadi.

Kak Kemal

M Feriadi
Belum mulai diskusi udah bagi-bagi hadiah loh buat 5 Media & 5 Blogger yang udah berkontribusi bagi mereka. Hadiahnya liburan ke Bali plus akomodasi. (duh mak, dari awal aja saya udah ngeces sama hadiahnya L).

Blogger yang liburan ke Bali

Media yang liburan ke Bali
Setelah bagi-bagi hadiah, acara dilanjutkan dengan diskusi. Untuk tahun ini, JNE ngundang  Mas Jaya Setiabudi yang punya Yukbisnis.com dan Mba Ria Sarwono yang punya Cottonink.
Habis diskusi, terbitlah pembagian doorprize juga Pak Eri Gunaldi sebagai President Marketing of PT Tiki JNE. Dari awal sih sebenernya udah gak ngarep bakalan dapet doorprizenya, toh gak ngaruh juga, karena gak masukin kartu nama. 





Di acara ini, JNE ngasih banyak banget hadiah yang bikin nganu L L diantaranya: Voucher MAP, Voucher Sodexo, Hardisk, Hp Lenovo, Camera Canon (ini yang bikin ngiler L), Xiaomi, Home Theather, dan Galaxy Tab. Untuk pembagian hadiah kali ini gak saya poto, cuma bikin iri soalnya, heehehe. Tapi masih mending saya sih, daripada ada yang ngotot kesel karena dia punya kartu nama tapi gak dikasih tau kalau drop kartu nama, hahahah ciyaaaannn…

----
Oh iya, gak ngira loh kalau JNE ternyata udah setua ini J. Dipikirnya, JNE ini masih berusia belia, soalnya baru mengenal JNE juga beberapa tahun belakangan ini (kesiyan). Butuh perjuangan yang sangat panjang sampai akhirnya JNE bisa sampai sebesar ini. Usaha yang keras emang membuahkan hasil yes (ya walaupun gak semua usaha bisa menghasilkan hasil yang manis sih, kayak udah capek-capek ngasih perhatian, tapi dianya tetep cuek bebek, ngenes brohh).
Seperempat abad udah dilewatin. JNE juga udah sering dapet penghargaan (semoga penghargaannya bikin JNE makin legowo yes, dan makin memperbaiki pelayanannya, aamiin). JNE udah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan Kantor Pusat di daerah Tomang, dan cabang utama di 34 provinsi.
Oh iya,ngomong-ngomong udah tau belum kalau JNE juga bisa mesen oleh-oleh nusantara loh. Untuk layanan ini JNE ngeluarin produk PESONA (Pesanan Oleh-Oleh Nusantara), jadi ketika kalian kangen pengen makan keripik sanjay, kalian bisa pesan di JNE. Selain PESONA JNE juga ngeluarin produk layanan JMT. Ini berlaku buat kalian yang mau kirim barang motor.

----
Gak kerasa, acara udah sampe di penghujung. Kita beres-beres pulang, dan gak lupa buat ambil tujuan utama kita  goodie bag. Dan ini isi goodie bagnya J.


Kita gak nyangka kalau isinya bakalan sebanyak ini, dan apalagi ada modemnya J, (alhamdulillah rezeki calon ibu dari anak-anak kamu yang sholeha, hehehe..). Lalu kitapun membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.



Ketika pulang, saya, Vira, Adibah, dan Kak Andy masig bertanya-tanya, voucer Sodexo ini dipakai buat apasih. Sampe akhirnya kita udah keluar dari Plaza Senayan dan menuju pulang, kita malah searching dulu. Awalnya sih dapet infonya kalau ini motivasi-motivasi gitu. Tapi segabai blogger pencari goodie bag, kita gak nyerah, sampe akhirnya kita tau kalau voucer ini bisa dipakai ke KFC. Kita berempat bukannya pulang dan gunain masing-masing voucernya, cewek-cewek ini malah malakin om-om buat ngebuktiin,voucer ini bisa dipake di KFC atau gak, yangakhirnya malah bikin kita masuk kedalam lagi dan makan es krim, sampai ada mba-mba JNE yang juga ketawa ngeliat kita makan, ya gimana gak tau ye kan, tas goodie bagnya aja ditaro diatas meja. 

Om-om  yang neraktir cabe-cabeannya pake pocer
Sekali lagi, selamat milad JNE, semakin tua, semakin baik pelayanannya, semakin sukses, semakin banyak produk-produk layanan baru yang dikeluarinnya (kalau kata manajemen pemasaran, namanya strategi komunikasi pemasaran) semakin yang baik-baik pokoknya mah. Terimaksih udah kasih goodie bag yang uwooo buat kami para fakir goodie bag.
Oh iya makasih juga sama Smartfren sama Sodexo yang ikut hadir dalam acara goodie bag kami J